Tips & Trik

Prime Mortar menuju Arsitektur Hijau dan Pembangunan yang Berkelanjutan

Oleh: Elisa Haryonugroho

 

Dampak Industri Bahan Bangunan

 

Ketika semen mulai dikenal di era kerajaan Romawi, kinerja semen dikenal unik dan tahan lama oleh karena pengikat mineral dan dengan harga yang murah, semen masih menjadi trend an mendominasi konstruksi modern hingga saat ini. Namun, kita dihadapkan pada hal yang kontradiksi ketika kita harus mengurangi polusi akibat penggunaan semen. Secara praktis, apa yang dapat kita lakukan untuk menyelamatkan lingkungan adalah meningkatkan efisiensi semen dan mengurangi penggunaan semen namun dengan tanpa mengurangi kinerja hasil akhirnya.

 

Produksi Semen adalah proses menghasilkan CO2, sedangkan selama semen mengalami hidrasi dan pengerasan, sebenarnya adalah proses perubahan yang memerlukan CO2, yang sebagian merubah CO2 dari udara sehingga mortar/beton mengeras, sebagaimana ditunjukkan di diagram 1.1

 

Semen+H2O –> Semen Hidrat+

Ca(OH)2+CO2

(pengerasan mortar/beton)

 

Apakah Arsitektur Hijau

 

Arsitektur hijau, atau desain bangunan ramah lingkungan, adalah sebuah pendekatan untuk membangun dengan meminimalkan efek yang berbahaya pada kesehatan manusia dan lingkungan. Arsitek atau desainer “hijau” berupaya untuk menjaga udara, air, dan bumi dengan memilih bahan bangunan dan praktek pembangunan yang ramah lingkungan. Ciri-ciri arsitektur hijau salah satunya adalah mengurangi emisi CO2 melalui pemanfaatan bahan bangunan dan system struktur yang ramah lingkungan terutama konsumsi semen yang menghasilkan CO2 dan menyerap energy yang besar pada proses produksinya.

 

Meskipun pada proses pengeringan beton CO2 diperlukan, namun penyerapan CO2 untuk proses pengeringan beton tidak dapat sepenuhnya mengimbangi emisi CO2 yang dihasilkan dari proses produksi. Oleh karena itu, mengurangi menggunakan semen memiliki makna strategis.

 

Lebih jauh dampak industri yang paling memberikan kontribusi emisi CO2 adalah sbb:

  1. Industri berat semen dan baja mengkonsumsi lebih dari setengah energi untuk industri.
  2. Proses produksi semen tidak hanya menghasilkan CO2 tetapi juga mengkonsumsi energi yang besar.
  3. Setiap ton produksi klinker menghasilkan 600kg CO2 dan mengkonsumsi energi setara dengan 400kg CO2.
  4. Untuk 3 milyar ton/tahun produksi semen dunia, sekurang-kurangnya ada 1,8 milyar CO2 menguap ke atmosfir.
  5. Penyumbang terbesar pemanasan global adalah emisi CO2 dari industri.

 

peta

 

Diagram 2. Emisi CO2 dari Industri Semen


Semen instan merupakan solusi ramah lingkungan yang memainkan peran sangat efektif untuk mengurangi pemakaian semen sementara mempertahankan mutu, bahkan meningkatkan kinerja semen itu sendiri yang meliputi:

 

  1. Pencapaian fungsi
  2. Aplikasi tipis
  3. Material sisa (waste material) lebih kecil
  4. Efisiensi tinggi

 

Apakah Semen Instan

 

Ketika efisiensi pemakain semen menjadi kebutuhan utama dalam membangun, maka kebutuhan semen instan untuk menjawab tuntutan lingkungan menjadi kebutuhan dasar dalam membangun. Dampak langsung ketika kita menggunakan semen instan secara kolektif adalah sbb:

 

  1. Mengurangi kadar CO2.
  2. Menghemat energi yang diperlukan pada proses konstruksi.
  3. Mengurangi limbah material.
  4. Bangunan yang kokoh sehingga ‘life-time’ bangunan yang panjang dan meminimalkan pekerjaan perbaikan.

 

Adapun semen instan adalah suatu campuran yang terdiri dari PC (Portland cement), pasir dengan gradasi yang sesuai, kapur, serta aditif tertentu yang sesuai dengan persyaratan fungsi yang harus dipenuhi. Semen instan yang dikenal di pasar saat ini, jenisnya sangat beragam, ada perekat bata atau blok beton ringan, plesteran, perkeat keramik pada berbagai media, hingga ‘waterproofing’. Fungsi semen instan yang spesifik ini, tentunya meningkatkan efisiensi volume pemakaian dan efektifitas kerja di lapangan. Dengan efisiensi pemakaian semen, maka konsumsi semen per meter persegi bangunan menurun. Dengan menurunnya konsumsi semen, maka emisi CO2 yang dihasilkan dari proses produksi semen, juga menurun.

 

Solusi Semen Instan

 

Di dalam mewujudkan sebuah pembangunan berkelanjutan, ada 3 hal yang menjadi perhatian;

 

  1. Pemakaian material dengan polusi tanah, air dan udara yang minimal.
  2. Proses konstruksi yang berdampak minimal terhadap lingkungan
  3. Pemakaian peralatan yang lebih hemat energi seperti minyak, gas, dan listrik
  4. Struktur bangunan yang kokoh dan mampu menahan elemen-elemen bangunan lebih lama

 

diagram-produksi-pm

 

Diagram 3. Proses Produksi Semen Instan

 

Merujuk kepada tuntutan produk ramah lingkungan di atas, maka penggunaan semen instan pada proses konstruksi merupakan penghematan energy selama proses konstruksi, pengurangan limbah material termasuk jumlah kantong semen dan material sisa, serta menambah umur bangunan sebagai dampak penggunaan material yang bermutu sehingga meminimalkan pekerjaan perbaikan selama bangunan digunakan.

 

Penggunaan Mortar di Indonesia

 

Volume pembangunan gedung dan bangunan diperkirakan sebesar Rp. 200.000.000.000.000 (Dua ratus miliar Rupiah) dengan pembangunan infrastruktur sekitar Rp. 350.000.000.000.000 (Tiga ratus limapuluh miliar Rupiah). Pembangunan gedung dan bangunan ini dikategorikan sebagai konstruksi ‘engineer-building’ dan ‘nonengineer building’ dengan rasio 30: 70.2 Pembangunan dibagi menjadi pembangunan infrastruktur, properti dan pembangunan oleh masyarakat . Pembangunan ini membutuhkan teknologi tinggi, kompleksitas dan pembangunan beresiko yang mungkin muncul, hingga konstruksi sederhana. Bangunan ‘non-engineer’ yang diselenggarakan oleh masyarakat yang memerlukan standar, kualitas, keamanan dan kemudahan pelaksanaan. Oleh karena itu, edukasi, bimbingan dan standarisasi kualitas sangat dibutuhkan oleh sumber daya trampil non konstruksi, selain penghasil devisa, yang terkait dengan kompetisi global di mana inovasi sangat dibutuhkan. Inovasi yang dimaksud adalah meliputi perangkat peraturan SNI (standar Nasional Indonesia), metodologi, serta inovasi yang dilakukan oleh masing-masing perusahaan, inovasi material, dan inovasi metode kerja untuk mencapai produktivitas dan standar kerja yang tinggi.

 

Dewasa ini, perkembangan industri mortar di Indonesia cukup menggembirakan, meskipun belum dapat memenuhi kebutuhan pembangunan konstruksi di Indonesia, khususnya bangunan ‘non-engineer’.

 

Seperti kita ketahui, pemanfaatan semen dan mortar di Indonesia masih di bawah Jepang, Korea, Thailand, Malaysia dan Filipina. Kita harus belajar dari negara-negara dimana inovasi pemanfaatan mortar telah berkembang dan dikenal secara luas.

 

Negara

Konsumsi Semen

(juta Ton)

Konsumsi Semen per Kapita (kg)

Korea

58,3

1216

Spanyol

46,22

1129

Cina

808,89

626

Amerika Serikat

112,28

385

Thailand

23,46

366

Inggris

12,78

213

Brazil

33,79

191

Indonesia

27,54

129

India

116,48

110

Diagram 4. Penggunaan Semen Per Kapita3

 

Secara ekonomi, dampak dari proses produksi dan penggunaan yang efisien dapat dilihat pada beberapa perbandingan di bawah ini.

 

Beberapa perbandingan harga ini merupakan sedikit gambaran dari beberapa aplikasi semen instan Prime Mortar untuk wilayah Jabodetabek. Referensi harga menggunakan UMR DKI Jakarta serta harga jual material di toko-toko Jabodetabek.

 

PEREKAT BLOK, PM-100

PASANGAN TEBAL BLOK

14 m²/hari 10 m²/hari
Ketinggian pekerjaan dinding ≥2,5m/hari Ketinggian pekerjaan dinding 1,5 m/hari
Ongkos Rp 6.500,-/m² Ongkos Rp 9.000,-/m²

Diagram 5. Perbandingan PM-100 vs Pasangan Tebal

 

Pasangan atau perkekat Blok tebal, adalah perekat dengan ketebalan 1 cm yang dihampar menggunakan cetok. Sementara perekat Blok dengan menggunakan PM-100 adalah adonan perekat yang dihampar menggunakan roskam bergigi. Dengan perekat tebal tidak memungkinkan blok disusun hingga ketinggian ≥2,5m karena dinding akan cenderung miring akibat berat sendiri yang membebani perekat yang tebal tadi. (Lihat diagram 5).

 

Dari sisi upah, pengeluaran upah untuk perekat blok semen instan dibandingkan upah untuk perekat bata konvensional menunjukan penghematan biaya hingga 42,86%. Tentu konsumsi semen untuk Thin Bed Mortar PM-100 yang dibanding pasangan bata dengan ketebalan 3mm dibanding 2 cm, sangat berbeda. (Diagram 6)

 

UPAH PASANG BLOK ACC

UPAH BATA KONVENSIONAL

ps. blok=

14.00 m2/hari

ps. bata=

8.00 m2/hari

tukang=

Rp 60,000.00

tukang=

Rp 60,000.00

kenek=

Rp 40,000.00

kenek=

Rp 40,000.00

ongkos=

7,142.86 Rp/m2

ongkos=

12,500.00 Rp/m2

Diagram 6. Perbandingan Upah Pasang Blok vs Bata

 

Demikian pula pemakaian semen instan untuk aplikasi plesteran permukaan dinding, tidak memerlukan proses penyaringan pasir dan penakaran. Sehingga, jumlah orang yang bekerja dalam satu grup juga berkurang dari 3 orang menjadi 2 orang saja sebagaimana diuraikan pada diagram 6.

 

UPAH PLESTERAN PM-200

UPAH PLESTERAN KONVENSIONAL

plester=

10.95 m2/hari

plester=

7.00 m2/hari

1 tukang=

Rp 60,000

1 tukang=

Rp 60,000.00

1 kenek=

Rp 40,000

2 kenek=

Rp 40,000.00

ongkos=

9,132.42 Rp/m2

ongkos=

14,285.71 Rp/m2

Diagram 7. Perbandingan Upah Pasang PM-200 vs Konvensional

 

Upah pekerja plesteran juga lebih hemat hingga 36%. Suatu nilai yang signifikan untuk penggunaan dalam volume yang besar. Kajian harga beberapa produk semen instan, juga menunjuk penghematan. Sebut saja pemakaian lapisan kedap air (waterproofing) bila dibandingkan dengan merek “A” yang berbasis karet, harganya Rp 635.000,- per 40 kg dapat menutup luasan 20 m². Apalagi ‘waterproofing’ berbahan dasar karet ini ‘life-time’-nya maksimal hanya 2 tahun karena tidak tahan ultraviolet. (Lihat diagram 8 )

 

waterprof

Diagram 8. Perbandingan Harga PM-900 vs Rubber-based-waterproofing

 

water

Diagram 7. Perbandingan Harga PM-300 vs Acian Kovensional

 

Semen instan untuk acian, tidak saja lebih hemat, namun meningkatkan kinerja permukaan bangunan yang tahan terhadap alkali. Diagram 7 mengacu pada harga di ritel produk cat anti alkali merek “M” senilai Rp 639.000,- per 20 liter untuk pemakaian luas bidang 80 m². Aplikasi semen instan acian juga ditujukan untuk penghematan konsumsi cat tembok karena kerapatan pori-porinya. Kedua kinerja ini merujuk kepada produk ramah lingkungan yang dapat memperpanjang umur bangunan.

 

PerangkatPengendali

 

Kelangsungan hidup umat manusia, kualitas hidup dan kesehatan manusia, serta kualitas lingkungan, dapat dicapai melalui pembangunan yang berkelanjutan. Sedang suatu pembangunan yang berkelanjutan dapat terwujud, apabila di dalam proses konstruksi ada suatu mekanisme pengendalian mutu yang berorientasi ramah lingkungan. Seorang pengelola proyek dapat melakukan pengkajian praktis terhadap setiap bahan dan system yang akan digunakan pada proyeknya. Supaya dengan demikian, manajer proyek dapat memastikan bahwa proyek yang dikelolanya adalah konstruksi yang ramah lingkungan dan merujuk arsitektur hijau. Adapun parameter produk ramah lingkungan4 meliputi sbb:

 

  1. Carbon foot print’; rekam jejak emisi karbon yang dihasilkan
  2. Product’s biography’; riwayat proses produksi suatu bahan bangunan

 

Parameter ini dikenal sebagai ‘Life Cycle Assesment’, LCA. Alat bantu kelaikan material LCA ini, mencakup kajian

 

  1. Proses perencanaan
  2. Proses manufaktur
  3. Proses seleksi bahan
  4. Cara yang disarankan dalam penggunaan produk
  5. Cara yang benar dalam membuang produk

 

LCA merupakan alat untuk merekam jejak emisi karbon yang dihasilkan melalui penelusuran dari bahan baku ke proses produksi, dari sejumlah emisi karbon yang dihasilkan ke sejumlah bahan bakar yang digunakan untuk proses produksi tadi.

 

Dalam melakukan proses LCA, ada 2 tahap yang harus dilakukan, yaitu:

 

  1. Memerikan emisi apa yang akan terjadi, dan material apa yang digunakan dalam menghasilkan produk dimaksud. Tahap ini disebut tahap inventarisasi.
  2. Menilai dampak apa dan penipisan bahan baku apa yang akan terjadi. Langkah ini disebut sebagai langkah penilaian dampak.

 

Dengan demikian, setiap proses konstruksi dapat dipastikan apakah merujuk kepada pembangunan yang berkelanjutan.